Aku bukan tipe pendaki gunung yang selalu hafal akan estimasi waktu dari pos ke pos selanjutnya,
aku bukan orang yang paham akan manajemen waktu berjalan di gunung,
aku juga bukan orang yang paham akan navigasi darat, aku juga bukan seseorang yang jago masak digunung dan masih banyak lagi yang tak aku bisa di gunung.
Yang aku pahami adalah proses dimana aku berjalan selangkah demi selangkah untuk mencapai klimaks dari proses panjang rentetan mimpi ini.
Sahur sahur sahur..
Ehh summit summit summit..
Ehh summit summit summit..
Dengan logat padangnya bang lihun membuyarkan mimpi indahku malam itu.
Selesai berdoa setelah ngisi perut dengan makanan ala kadarnya dan sedikit air untuk menyegarkan tubuh ini.
Masih dg jalur seperti shelter 2 ke tempat camp kami ini.
Masih dg jalur seperti shelter 2 ke tempat camp kami ini.
kaki ini melangkah menuju shelter 3..
Pendakian ini mempunyai 2 misi,
puncak adalah misi utama, tapi ada misi yang tak kalah penting bagiku..
Tidak meninggalkan solat 5 waktu..
Yapppp berkali kali ke gunung aku selalu meninggalkan kewajibanku.
padahal Allah telah menciptakan keindahan alam yang super duper indah, dan semua ini gratis men..
Dan aku masih saja mendustakan nikmatnya yg seperti ini, sungguh terlalu.
Semua yang aku lakukan ini tak akan berhasil tanpa campur tangan dan ridho Allah SWT,
sebelum pendakian ini aku sudah berencana untuk tak pernah meninggalkan solat.
Inilah subuh pertama ku di gunung,
beberapa ratus meter sebelum Tugu Yudha aku bersimpuh kepadamu ya Rab..
Bagiku subuh kali ini begitu amat sangat berharga dan bermakna,
Berkahi selalu aku dalam rahmat-Mu.
Semburat warna kuning keemasan mulai muncul di sela-sela danau tujuh gunung,
salah satu danau tertinggi di Indonesia ini begitu menawan dan gagah terlihat dari tugu yudha
Subhanallah..
Sempurna sunrise ini,
sengaja tak aku abadikan lewat lensa kamera.
Biar mata ini menikmati dan merasakan klimaks nikmat sunrise kali ini..
Biar otak ini menyimpan memori indah ini.
Biar mata ini menikmati dan merasakan klimaks nikmat sunrise kali ini..
Biar otak ini menyimpan memori indah ini.
Jalur pasir berkerikil kecil kecil menjadi teman perjalananku menuju atap pulau Sumatera,
Layaknya Rinjani dengan keanggunan Dewi Anjani nya yang menyambut kedatangan ku,
seperti gagahnya para dewa dewa di puncak mahameru.
Alam selalu punya cara tersendiri menyambut para penikmat alam yang semoga diri ini tak kufur terhadap alam
dan Klimaks juga akhirnya perjalanan ini.
Meski target sampe di puncak sebelum sunrise gagal..
Tapi melihat sunrise tadi bagaikan oase di padang gurun sahara. ceilehh
Karena terkadang asa tak sesuai Realita,
Baru kali ini aku bersujud syukur di puncak gunung.
Ada yg bilang :
"setidaknya masih ada tanah untuk kita bersujud ketika tak ada lagi pundak yang sanggup menahan kesedihan kita"Menangis tersedu sedu di pinggir plakat kerinci sambil habisin logistik.
Wellll..
Ada sedikit coletehan dariku untuk penutup cerita ini,
Ada sedikit coletehan dariku untuk penutup cerita ini,
Rentetan tantangan untuk sebuah pencapaian yang meyakinkan,
dengan bangga memegang plakat ini, sebuah hal yang mudah untuk jiwa yang haus akan sebuah pencapaian yang optimal.Manusiawi kan?
Inilah perasaan jumawa seorang insan manusia atas apa yang dia capai, bagi sebagian orang hal ini menunjukkan betapa manusia dengan kadar kepuasan yang sangat serakah, yang selalu merasa semua belum cukup dan tak pernah puas akan pencapaian itu. Bahkan sering kali pencapaian ini disimbolkan sebagai kesombongan orang itu.
Silahkan takar sendiri dengan nalar yang anda punya!!
Selebihnya biar saya yang menikmati hasil dari kesetiaan ku terhadap sebuah proses
sunrisebersama sang saka merah putih
jalur menuju shelter 3
KLIMAKS
Tugu Yudha
Danau Tujuh Gunung dari puncak kerinci








